She Uban's Chronicles

We blog for edutainment!

BAGAIMANA MEMBACA DAN MEMAHAMI TULISAN FILSAFAT

A. Tulisan Filsafat

Jika hendak melakukan refleksi filsafat secara sistematis, kita perlu membaca banyak buku filsafat. Di dalam buku-buku tersebut, kita akan mendapatkan banyak sekali ide-ide yang menarik dan layak untuk dipikirkan lebih jauh.

Ketika memilih buku filsafat secara spesifik, sebaiknya kita harus tahu bahwa ada 2 jenis buku filsafat, yaitu:

a. Buku filsafat primer

Tulisan asli para filsuf yang menyampaikan pemikiran-pemikirannya tentang satu tema tertentu. Biasanya disebut sebagai teks asli atau teks orisinal.

Buku filsuf primer dibagi menjadi 2, yaitu:

· Buku Utuh

Contoh: Buku dari Immanuel Kant yang berjudul Kritik der Reinen Vermunft yang mengajukan pandangan –pandangan orisinilnya tentang pengetahuan manusia dan kondisi-kondisi yang memungkinkan pengetahuan tersebut.

· Antologi (kumpulan tulisan)

Biasanya antologi terdiri dari beberapa artikel spesifik yang sebelumnya pernah diterbitkan di jurnal atau media lainnya. Tetapi, terkadang juga terdiri dari beberapa tulisan pendek yang memang dirumuskan khusus untuk antologi itu. Antologi bisa juga berbentuk kumpulan buku filsuf-filsuf besar, seperti antologi tulisan Plato atau tentang tema tertentu, misal kumpulan tulisan para filsuf tentang epistomologi atau filsafat pengetahuan.

b. Buku filsafat sekunder

Buku yang berfungsi untuk memaparkan pandangan para filsuf yang terdapat di dalam buku primer, sekaligus mempertimbangkannya secara kritis. Biasanya disebut sebagai buku komentar.

Buku ini bisa digunakan untuk menuntun dan memandu pembaca dalam membaca buku primer dan juga bisa menjadi ruang untuk menafsirkan pemikiran filsuf yang sama secara berbeda.

B. Persiapan yang Diperlukan

Biasanya kita akan menemukan kalimat-kalimat yang kita tidak mengerti dalam membaca buku filsafat, karena seringkali ide-ide para filsuf terkesan absurd, abstrak, dan menggunakan bahasa yang berbelit-belit dengan istilah-istilah sulit, kalimat-kalimat panjang yang tidak jelas, dan penggunaan gaya bahasa yang kuno.

Seringkali para filsuf mengandaikan bahwa pembacanya adalah sesama intelektual dan sudah mengerti hal dasar terlebih dahulu sebelum membaca bukunya. Di sini terdapat 3 hal yang dapat dipersiapkan dalam membaca karya sastra agar kita benar-benar mengerti maksud dan esensi dari buku tersebut, yaitu:

v Pertama, kita harus menyediakan waktu yang cukup banyak untuk memahami betul suatu buku filsafat. Kita harus mampu mengenali apa yang berada di balik kata-kata atau tulisan sang filsuf. Di saat membaca, pikiran kita harus terbebas dari masalah-masalah lain yang mungkin membuat kita resah. “Lebih baik tidak membaca sama sekali daripada secara tergesa-gesa” demikian ditulis Woodhouse (ibid, hal.135).

v Kedua, jika kita membaca buku filsafat, kita harus melakukannya secara berkelanjutan, tidak diselingi dengan buku lain.

v Ketiga, sedapat mungkin kita haruslah berusaha menjaga jarak terhadap buku yang kita baca, dengan menekan perasaan subyektif (suka atau tidak suka). Hal ini bertujuan untuk menunda segala bentuk prasangka yang kita miliki dan juga kita dapat memahami inti utama dari pemikiran filsuf yang kita baca secara jernih.

C. Memahami Tulisan Filsafat

Salah satu teknik membaca tulisan filsafat yang baik adalah membaca secara aktif. Artinya, kita harus terus menerus berusaha memahami dan menanggapi tulisan yang tengah kita baca, bukannya sebagai pembaca pasif yang menunggu kejelasan dan makna datng dengan sendirinya. Ada 2 cara yang dapat diterapkan untuk membaca aktif, yaitu:

Pertama, kita harus mempersiapkan buku atau kertas untuk menuliskan catatan penting, pertanyaan kita dan juga kebingungan kita yang mungkin bisa dijadikan bahan untuk berpartisipasi dalam diskusi. Jadi kita harus jeli melihat konsep-konsep kunci, kalimat-kalimat penting, dan kerancuan-kerancuan yang terdapat di dalam tulisan filsuf yang kita baca. Untuk membuat kesimpulan kita harus berusaha merumuskan ide dengan menggunakan bahasa sendiri dan tidak mengambil langsung dari buku yang kita baca.

Kedua, menggaris bawahi kalimat-kalimat penting. Tujuannya untuk memperjelas perbedaan antara argumen yang penting dan yang kurang penting, jadi kita dapat mengetahui inti dari tulisan dengan mudah.

D. Bersikap Kritis

Tahap pertama membaca adalah berusaha memahami, dan tahap kedua adalah menanggapi. Kita tidak bisa langsung menanggapi suatu tulisan filsuf dengan menganggap tulisan tersebut gagasan yang bodoh dan tidak menyetujuinya. Kita harus menentukan posisi kita dengan menggunakan penalaran rasional, baru setelah itu kita memutuskan apakah pemikiran sang filsuf tepat, kurang tepat, atau hanya sebagian tepat dan sebagian lagi salah.

Kelima pertanyaan ini mungkin bisa membantu kita bersikap kritis terhadap tulisan filsafat yang tengah kita baca. Pertama, apakah argumentasi utama sang filsuf sudah jelas? Kedua, apakah argumentasi sang filsuf didukung oleh premis-premis dan data yang memadai? Ketiga, adakah kelemahan dari argumentasi itu yang mungkin saja berangkat dari premis atau data yang tidak memadai? Keempat, apakah argumentasi utama sang filsuf yang ada di buku itu dapat memenuhi tujuan utama yang ingin dicapai oleh sang filsuf? Dan kelima, apakah kita mampu mengajukan kritik yang dirumuskan berdasarkan penalaran rasional terhadap tulisan filsafat yang tengah kita baca? (ibid, hal.147).

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: