She Uban's Chronicles

We blog for edutainment!

Ketika Tukang Becak dapat Giliran Membicarakan Negara,,,,

Pagi itu masih agak remang-remang, tampaknya matahari masih enggan keluar dari peraduannya yang hangat. Tetapi para tukang becak sudah mengadakan rapat kecil di lesehan Bu’e tukang pecel depan Rumah Sakit Dr. Oen Solo Baru. Topik apa gerangan yang menjadi agenda rapat mereka pagi itu??bukan soal harga kebutuhan pokok yang lagi naik, kenaikan TDL, kenaikan pajak (yang belum tentu untuk rakyat), ataupun kenaikan rok-rok anak muda jaman sekarang yang mulai semakin tinggi.

Apa gerangan yang menjadi topik pmbicaraan hangat di pagi yang dingin itu??tak lain dan tak bukan gunjingan tentang para koruptor negeri ini yang lagi naik daun serta berita tertangkapnya gembong teroris yang (lagi-lagi) tertangkap di Klaten. Suatu obrolan yang sungguh menarik dan sungguh mengejutkan ketika mendengar mereka mulai membanding-bandingkan antara koruptor dan teroris.

Tukang becak pertama mengatakan, “wah teroris ketangkep meneh ning Klaten!” yang langsung ditanggapi dengan kalimat yang mengandung keterkejuatn dari rekannya, “opo iyo?”. Kupingku mulai aku pasang agak lebar mendengar obrolan para tukag becak itu karena aku memang belum mendengar kabar terbaru itu, maklumlah sudah 1 minggu aku menginap di rumah sakit sehingga hubunganku dengan dunia luar nyaris terputus.

Tapi perkataan selanjutnya cukup mengejutkanku. “Jan-janne teroris ki luwih apik soko koruptur, iyo to? cobo nek koruptor ki nyengsarakke uwong okeh tapi nek teroris ki jane bertindak atas nama rakyat”. Rekannya yang lain pun menanggapi, “tenan kok nek koruptor ki nyat kebangeten tenan, ora mikirke wong cilik”, dan obrolan itu pun terus berlanjut sampai pada suatu perkataan yang cukup menarik buatku.

“Tapi sayange kok teroris ki gampang banget kecekel yo lek? tapi nek koruptor kok angel men kecekel’e, cobo nek teroris do ora kecekel mesti wis ngebom koruptor-koruptor”. Hmm,,,,benar-benar obrolan yang menarik di pagi itu, tapi sayangnya obrolan itu terhenti ketika aku membayar nasi pecel yang aku beli dengan uang 50ribuan yang langsung ditolak oleh Ibu tukang pecel. Tukang becak pertama langsung menawarkan jasanya untuk menukarkan uang tersebut. dan tak kusangka sebelumnya Ibu tukang pecel pun punya argumen tersendiri menanggapi obrolan pagi itu, “uwong kok sok men mikir negoro, lawong mikir awake dewe wae rung iso! mbokyo do mikir golek duit ki angel, ngasi semrepet aku leh ngrungokke!”.

Aku pun cuma tersenyum menanggapi perkataan ibu tukang pecel tersebut dan cuma bilang “nggih Bu” dan langsung mengambil nasi pecelku yang sudah dinanti-nanti oleh perutku yang mulai berorkestra.

Obrolan di Pagi hari di depan RS Dr. Oen Solo Baru

oleh para tukang becak sekitar jam 05.15 pagi.

 

 

 

Single Post Navigation

6 thoughts on “Ketika Tukang Becak dapat Giliran Membicarakan Negara,,,,

Comment navigation

  1. wa h…pengalaman berkesan mendengarkan aspirasi rakyak kecil…

    • sheuban on said:

      Yuph,,,,bener banget!!!!!!
      aku ja sampe senyum-senyum sendiri mendengarnya.
      Bila anda mempunyai postingan yang menarik silahkan kirimkan pada kami

Comment navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: