She Uban's Chronicles

We blog for edutainment!

Cerita Seorang Calon Guru

Alangkah senangnya hatiku bisa menyelesaikan studi S1 di bidang pendidikan dengan hasil yng memuaskan dan tepat waktu, bahkan bisa dibilang kelebihan waktu. Dengan nilai yang tercantum di transkripku itu, wajar jika sudah terbayang dibenakku bagaimana mudahnya diriku untuk mendapat pekerjaan. Langsung aku membayangkan menjadi seorang guru yang sedang membimbing murid-muridnya di depan kelas.

Banyak metode-metode yang kurasakan cukup brilian untuk menghadapi masalah-masalah yang sering terjadi di dunia pendidikan saat ini (maklum ibuku juga seorang guru jadi aku bisa belajar darinya). Wah pastinya aku bisa langsung mengaplikasikan apa yang telah aku dapat dari menimba ilmu di Universitas. Ku bayangkan senyum cerah murid-muridku kelak ketika mereka paham apa yg aku jelaskan. Sungguh tidak ada hal yang lebih menyenangkan bagi seorang guru selain melihat muridnya  paham pelajaran yang disampaikan gurunya.

Tak pelak  diriku langsung bersemangat untku membuat lamaran kerja. Aku buat semenarik mungkin sehingga bisa menggambarkan diriku yang sebenarnya. Tentu saja pilihan pertamaku jatuh ke sekolah negeri, karena di daerahku sekolah negeri masih menjadi primadona, berbeda dengan wilayah perkotaan yang persaingan antara swasta dan negeri cukup berimbang bahkan mungkin orang tua akan memilih memasukkan anaknya di sekolah swasta yang lebih menjamin kualitas mereka.

Dengan senyum cerah dan semangat khas sarjana baru aku berangkat berjuang menggapai impianku. Tetapi setelah aku berkeliling memasukkan lamaranku alhasil hanya kecewa yang aku dapat, semua lamaranku berbuah penolakan! Bahkan sudah ditolak sebelum mereka menerima atau melihat isi dari lamaranku tersebut (sungguh malang nasib nilai-nilaiku yang sudah siap menunjukkan kekuatan mereka).

Akhirnya semangat yang tadi pagi begitu menggebu, langsung menguap seketika. 1 hal yg dapat aku pelajari dari pengalamanku tersebut, yaitu kita harus panya koneksi dengan staf dalam atau menyerahkan memo yang istilah kerennya “surat sakti” untuk bisa menjadi guru bantu di suatu sekolah dengan status “latihan mengajar”. Dalam kasus yang lain aku bahkan mendengar kita harus membayar sejumlah uang untuk bisa “latihan mengajar”. Jadi bagi lulusan yang mempunyai nilai pas-pasan atau bahkan hanya membeli ijazah, kalau mereka mempunyai koneksi atau si “Surat Sakti” ini, mereka bisa masuk dengan mudah. Lalu aku berpikir bagaimana nasib orang-orang awam yang tidak punya koneksi sprti aku ini? Padahal kami sangat bersemangat untuk ikut membangun bangsa dengan mencerdaskan generasi penerus sesuai yang dicita-citakan bangsa ini dalam Undang-Undang Dasar 45. Tapi apa daya, kami ditolak mentah-mentah!

Satu lagi pengalaman yang sanagt menusuk hatiku terkait dunia pendidikan. Setelah akhirnya aku mendapatkan sekolah yang mau menerimaku sebagai guru, ternyata kekecewaanku muncul kembali. Ternyata murid-murid jaman sekarang bisa dengan mudah lulus tanpa harus menggunakan otak mereka! bagaimana itu bisa terjadi, padahal setiap tahun departemen pendidikan selalu menaikkan standar kelulusan?

Ternyata memang aturan tinggallah aturan. Prakteknya sangat berbeda dengan teori. Kenyataannya sekolah sekarang ini sangat memanjakan murid-muridnya, maka tidaklah heran jika nilai anak-anak sekarang sangatlah baik. Apakah itu karena peran gurunya dalam mengajarkan pelajaran dengan profesional sehingga muridnya benar-benar paham akan materi yang diajarkan? (maklum guru sekarang sebagian besar sudah bersertifikasi dengan ditunjang gaji 2x lipat gaji semula, jadi kompetensi mereka pasti juga ikut naik). Tapi jawabannya mungkin akan sangat mencengangkan karena jawabannya TIDAK!

Memang guru punya andil yang cukup besar dalam menentukan prestasi siswa, tetapi ada yg lebih berpengaruh daripada guru, apakah itu? jawabannya tak lain dan tak bukan adalah si KTSP. Kenapa sistem kurikulum kita yang tergres ini justru berperan besar? “wah berarti sistem ini benar-benar berhasil dalam mendidik anak-anak kita ya”, mungkin itu yg terlintas dalam benak kita. Tapi sekali lagi jawabannya adalah TIDAK!

Lalu bagaimana anak-anak kita bisa meraih nilai yang bagus jika sistem pendidikannya tidak berperan banyak? Tahukah anda jika nilai-nilai yang tertera di raport anak anda itu adalah hanya sebatas angka-angka yg tertulis rapi tanpa berarti apa-apa? Mungkin para orang tua senang melihat nilai-nilai tinggi yang tercetak di raport anak mereka. Mereka pikir dengan nilai tersebut berarti anak mereka memang pintar karena minimal sudah mencapai nilai standar kompetensi minimal yang diharapkan. Akhirnya mereka lengah, membiarkan anak-anak mereka tanpa pantauan dari rumah karena merasa anaknya sudah cukup pintar. Padahal mereka salah besar!

Sekolah memang sangat beruntung dengan adannya sistem KTSP, karena sekolah dapat dengan leluasa untuk menentukan standar nilai minimal mereka sendiri. Memang benar setiap sekolah menetapkan standar nilai yg tinggi, mungkin dalam pikiran kita sekolah dengan standar niai yang tinggi pastilah bagus, karena siswa-siswa yang belajar di sekolah itu benar-benar akan diajak oleh guru mereka untuk berusaha mencapai target yang ditentukan dan kalau sekolah mampu menetapkan standar nilai yang tinggi berarti mereka yakin jika anak didiknya akan mampu  melampauinya. Itu memang  yang seharusnya terjadi.

Tetapi ternyata praktek di lapangan sangat berbeda. Standar nilai sekarang bukanlah target minimal yang harus dicapai oleh siswa, tetapi nilai terendah yang harus diberikan pada siswa. Apa maksudnya? Jadi sekolah sudah menentukan berapa nilai bagi anak yang mempunyai prestasi terendah. Misalnya, sebuah sekolah menentukan standar KKM mata pelajaran matematika adalah 7, berarti anak yang paling rendah kemampuannya harus diberi nilai 7, tidak peduli jika kemampuan sebenarnya kurang dari 7. Karena, jika sampai nilainya kurang dari 7 siswa tersebut akan dinyatakan tidak lulus mata pelajaran tersebut. Hal tersebut akan sangat merugikan sekolah. Dari dipanggil dinas pendidikan karena dianggap tidak bisa mengajar sampai reputasi sekolah yang jelek di masyarakat. Kalau dalam aturan sebenarnya, ketika ada nilai anak yang kurang dari KKM gurunya harus melakukan remedial test untuk meningkatkan nilai anak tersebut sampai mencapai KKM, tapi kenyataannya guru terlalu malas untuk melakukan itu. Memang guru mengadakan remedial test, tapi kesannya itu hanya untuk formalitas, karena jika nilai anak masih dibawah KKM tetap tidak akan diadakan tes remedial kembali. Solusi paling mudah dan tidak merepotkan ya cukup memberi anak nilai sesuai dengan standar minimal.

Aku pernah protes atas sistem seperti ini, seharusnya jika memang anak belum bisa mencapi nilai minimal, kita harus mencantumkan nilai mereka yang asli agar bisa menjadi tolak ukur bagi guru mereka di tingkat selanjutnya. Tapi ternyata teguran yang aku dapat. Pertama kredibilitasku sebagai guru akan dipertanyakan karena mempunyai murid dengan nilai di bawah standar, yang kedua nilai tersebut akan mematikan bagi si murid, karena akan mempersulit si murid untuk naik kelas, lulus ataupun mencari sekolah lanjutan. Menurut rekan-rekan sesama guru kasihan anak tersebut. Aku hanya bisa diam mendengar teguran itu, walaupun dalam hatiku bertanya kenapa guru-guruku dahulu tidak punya belas kasih dan tanpa ragu-ragu menorehkan angka 5 yang keramat dengan tinta merah yang membara, yng pda akhirnya sanggup membuatku bersemangat untuk menggenjot prestasiku agar tidak bertemu lagi dengan si Angka merah itu.

Aku sungguh tidak setuju dengan sistem ini, karena siswa akan dengan mudah mendapatkan nilai bagus tanpa harus bersusah payah. Apalagi pendidikan di Indonesia lebih berorientasi pada nilai dan mementingkan mata pelajaran tertentu. Bukankah itu akan mematikan kreatifitas dan daya pikir anak? Mereka tidak akan serius belajar karena merasa sudah pasti akan lulus. Lalu siapa yang diuntungkan dan dirugikan? Tentu saja semua rugi karena hanya membohongi diri sndri. Yang rugi adalah bangsa ini yang harus mendapatkan generasi penerus dengan kualitas yang dipertanyakan. Jadi jika anda melihat nilai anak anda cukup lumayan jangan senang dulu karena mungkin itu hanyalah nilai katrolan.  Tetaplah memantau penddikan anak anda, sampai dimana kemampuannya dalam menguasai materi yang diajarkan di sekola. Selalu dukunglah kemampuan anak kita, dan selalu galilah bakat anak kita, jangan hanya terfokus pada mata pelajaran utama saja. Karena pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah saja tetapi juga di rumah.

 

 

 

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: